Tahun Terbit : 2026
Penulis : dr. Nancy Sylvia Bawiling, M.Fis, AIFO-K
Editor : dr. Allenita Helen Grace Kambey Sp.A., dr. Ireine Suantika Cornelia Roosdy M.Kes, Sp.KJ
Jumlah Halaman : xv, 312
Ukuran : 17,5x25 cm
SINOPSIS
Komunikasi merupakan bagian yang melekat pada setiap tindakan klinis: sejak dokter menyambut pasien, menggali keluhan, menjelaskan pilihan pemeriksaan dan terapi, hingga berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain. Namun, kecakapan komunikasi tidak terbentuk hanya dengan menguasai istilah medis. Dokter perlu hadir dengan empati, mendengarkan tanpa tergesa-gesa, menyampaikan informasi secara jernih, serta menghormati nilai dan keadaan hidup pasien. Kesadaran akan kebutuhan tersebut mendorong penulisan buku ajar Komunikasi Medis ini. Buku ini disusun untuk membantu mahasiswa kedokteran memahami komunikasi sebagai kompetensi klinis sekaligus landasan hubungan yang saling menghargai dan mendukung keselamatan pasien.
Pembahasan disusun dalam empat belas bab yang bergerak dari dasar menuju penerapan terpadu. Bab-bab awal menguraikan konsep, etika, hubungan dokter-pasien, model Calgary-Cambridge, keterampilan verbal dan nonverbal, serta teknik anamnesis. Pembahasan selanjutnya mencakup wawancara berpusat pada pasien, edukasi kesehatan, analisis kasus, penyampaian berita buruk dengan protokol SPIKES, dan komunikasi antartim melalui SBAR. Bagian akhir mengangkat profesionalisme dan etika digital, keberagaman sosiokultural dan literasi kesehatan, komunikasi dengan pasien berkebutuhan khusus maupun pasien kronis, serta integrasi keterampilan dalam kasus kompleks. Keunggulan pendekatan buku ini terletak pada upaya mempertautkan landasan konseptual dengan latihan dan penalaran klinis. Mahasiswa diajak bukan hanya mengenali suatu teknik, melainkan juga mempertimbangkan kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa teknik itu digunakan. Dengan demikian, keterampilan komunikasi dipahami sebagai praktik reflektif yang perlu disesuaikan dengan pasien, keluarga, tim, dan konteks pelayanan.
Penyusunan buku ini memperoleh dukungan dan pemikiran dari banyak pihak. Saya menyampaikan terima kasih kepada para kolega atas pertukaran gagasan dan masukan akademis, kepada mahasiswa yang melalui pertanyaan serta pengalaman belajarnya mengingatkan saya pada kebutuhan pembelajaran yang nyata, dan kepada keluarga atas kesabaran serta dukungan selama proses penulisan. Terima kasih juga saya sampaikan kepada penerbit yang membantu mewujudkan naskah ini menjadi bahan ajar yang dapat digunakan lebih luas.
Saya berharap buku ini menjadi teman belajar yang bermanfaat bagi mahasiswa, sekaligus bahan refleksi bagi para pendidik dan tenaga kesehatan yang ingin terus mengembangkan cara berkomunikasi dengan pasien. Setiap percakapan klinis memiliki konteks dan tantangannya sendiri; karena itu, prinsip-prinsip dalam buku ini perlu diterapkan dengan kepekaan, keterbukaan, dan tanggung jawab profesional. Masukan dari pembaca sangat diharapkan agar buku ini dapat terus disempurnakan dan tetap relevan bagi pembelajaran maupun praktik komunikasi medis.